MENYIKAPI MUSIBAH

Oleh: Ma’ruf Zahran Sabran

MUSIBAH Sidoarjo belum usai, Indonesia dihebohkan dengan gempa Yogyakarta. Disusul banjir bandang di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Kalimantan Selatan, dampak dari tergerusnya pegunungan Meratus, Barabai. Diikuti musibah Ciganjur efek dari sesar Lembang. Kemudian gempa di Tuban (Jawa Timur) sehingga getarannya sampai ke Yogyakarta. Gempa di Pacitan, Cilacap, dan banjir di wilayah Indonesia yang hampir merata.

Menengok desa Sajingan Besar dan Sajingan Kecil Kabupaten Sambas Kalimantan Barat yang menjadi langganan banjir saban tahun. Daerah pesisir pantai utara seperti Singkawang, Pemangkat, Selakau, Sebangkau, Jawai, Tekarang, Tebas, Sambas berada pada status banjir siklus tahunan. Atau wilayah selatan Kalimantan Barat mulai Sanggau, Sekadau, Melawi, Sintang, Kapuas Hulu, tidak absen dari kehadiran air yang melimpah diluar kewajaran, agenda tetap tahunan. Memasuki masa triwulan ke 2 tahun 2024, musibah masih melanda.

Semua musibah bencana tersebut berasal dari ulah tangan manusia, “telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia. Agar Kami rasakan kepada mereka derita, sebagian akibat dari perbuatan mereka. Semoga mereka kembali kepada Allah.” (Ar-Rum:41).

Berbagai musibah seperti kematian, ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, buah-buahan, berikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Mereka yang mengatakan, sesungguhnya kami berasal dari Allah dan sesungguhnya kami kembali kepada-Nya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat salawat dari Tuhan mereka dan kasih sayang. Mereka itulah orang-orang yang berada dalam petunjuk (baca Albaqarah:155-157).

Kepastian nikmat adalah bala’ yang setiap orang pasti mendapatinya, sedikit atau banyak. Keniscayaan taat adalah maksiat yang akan datang dan pulang pada waktunya. Alquran memberi isyarat bahwa bersama kesulitan membawa kemudahan, sesuai tunjuk ajar-Nya. “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan. Apabila engkau telah selesai mengerjakan suatu urusan, segera lakukan pekerjaan yang lain. Dan kepada Tuhan-mu kamu berharap.” (Al-insyirah:5-8).

Jenis musibah memiliki tiga pesan, yaitu ujian, peringatan, siksa (adzab). Sasaran musibah sebagai ujian menimpa orang-orang yang beriman, beramal saleh lagi merendahkan diri kehadapan Tuhan-nya (wa akhbatu ila rabbihim). Sasaran musibah sebagai peringatan mendera orang-orang yang beriman, namun masih banyak berbuat dosa. Sasaran musibah sebagai siksa (adzab) mencambuk orang-orang yang durhaka, tidak beriman lagi sombong.

Pertama, musibah sebagai ujian.
Bersabar adalah sikap bagi musibah yang bersifat ujian, dan cara orang-orang beriman mendekati Tuhan, Allah SWT. Berikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Ciri mereka adalah meyakini bahwa semua datang dari Allah, dan semua akan kembali kepada-Nya.

Karena mereka beriman kepada Tuhan yang tidak nampak (ghaib). Mutlak kegaibanNya, berdasarkan firman: “Sesungguhnya engkau (Muhammad) hanya pemberi peringatan kepada orang yang mau mengikuti Alquran dan takut kepada yang maha pengasih, meski tidak melihat-Nya (ghaib). Maka berikan kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (Yasin:11). Bila beriman kepada Tuhan yang maha ghaib dalam ujian taat, ujian maksiat, ujian nikmat, ujian bala’ (bencana), niscaya Tuhan anugerahkan tiga lencana kemenangan, salawat, rahmat, hidayat (hidayah). Salawat Tuhan artinya hamba yang sabar menerima derita adalah Tuhan akan menyebut nama hamba-Nya di hadapan majelis malaikat, majelis arwah para nabi, dan para wali.

Salawat juga berarti rahmat dan hidayat. Rahmat artinya kasih sayang, hidayat artinya petunjuk. Hidayat tidak cukup, seorang hamba beriman sangat butuh kepada taufik. Taufik adalah sikap berketetapan dalam taat, istikamah dan istimrariyah (taat berkelanjutan selamanya).

Jadi, ujian bagi kaum beriman untuk meningkatkan kelas mereka di hadapan Tuhan. Jangan mengaku beriman kalau belum diuji. Surah Al-Ankabut ayat 2 dan 3 mengabarkan, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan dengan mengatakan; kami telah beriman, padahal mereka belum diuji. Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar (dalam iman), dan Allah pasti mengetahui orang-orang yang dusta (dalam iman).” Pahala kesabaran telah Dia janjikan kepada jiwa yang tenang, artinya jiwa yang sabar. “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan-mu dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu. Masuklah ke dalam surga-Ku.” (Alfajar:27-30).

Dua, musibah sebagai peringatan.
Pilihan sikap taubat merupakan jalan sasaran musibah yang berjenis peringatan bagi pendosa. Kemudian, Allah SWT menyerukan, bahwa ayat-Nya adalah adz-dzikru (warning). Bandung, Sukabumi, Subang, Lumajang, Garut diguncang gempa, bisa dimaknai ujian dan peringatan. Peringatan dini untuk sedini, sebanyak mungkin memohon ampun kepada-Nya. Sungguh, kewafatan orang-orang beriman dinilai syahid (jamak syuhada).

Tiga, musibah sebagai siksa (adzab).
Pilihan hidup beriman adalah jalan bagi musibah yang berupa hukuman. Qarun dan pengikutnya dihukum di dunia dengan penenggelaman bumi (likuivaksi), di akhirat menunggu siksa yang lebih keras dan kekal. Fir’aun dan tentaranya ditenggelamkan air laut (tsunami).Kaum durhaka dari umat Nabi Nuh adalah dibenamkan banjir besar. Umat Nabi Hud dengan gempa bumi. Umat Luth yang durhaka, Kami utus siksa dengan meteor yang membakar, dan Kami hujani mereka dengan hujan meteor (wa-amtharna ‘alaihim mathara).

Ketiga jenis musibah (ujian) hendaklah setiap diri untuk senantiasa mawas diri. Mawas diri dalam arti berada dalam lingkup hati sabar, hati taubat, hati beriman. Lalu berlanjut pada bicara iman, bicara taubat, bicara beriman. Kemudian bersikap sabar, bersikap taubat, bersikap beriman. Akhirnya kepada Allah SWT jua tempat kembali. “Mengapa kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu dahulu mati, maka kamu dihidupkan oleh-Nya. Kemudian kamu dimatikan oleh-Nya, kemudian kamu dihidupkan oleh-Nya. Kemudian kepada-Nya kamu dikembalikan.” (Albaqarah:28). Wallahua’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *